 |
Who's Online |
 |
|
There are currently, 25 guest(s) and 0 member(s) that are online.
You are Anonymous user. You can register for free by clicking here
|
|
|
 |
| |
Selamat Datang di Fordisastra, Portal Sastra Indonesia!
Tidak terasa, fordisastra.com sudah memasuki usia 8 tahun. Sejak tahun 2005 situs ini hadir, dengan mengalami pasang surut. Beberapa kali kena hacking, beberapa kali error karena otak-atik software phpnuke yang sekarang sudah jarang digunakan orang lain.
Namun, kami sebagai redaksi fordisastra.com akan tetap meneruskan situs fordisastra.com ini. Paling tidak, bisa menjadi semacam pendokumentasian karya-karya sastra, sehingga bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh yang memerlukan.
Ada beberapa menu yang bisa anda gunakan untuk berkontribusi di situs ini, antara lain:
Ensiklopedia, di ruang ini anda bisa masukkan berbagai macam hal yang berkaitan dengan sastra.
Review, di ruang ini anda bisa memasukkan semacam ulasan tentang buku yang anda baca, atau bisa juga mempromosikan buku yang anda terbitkan. Gratis.
Silakan anda telusuri menu dalam situs ini, dan berpartisipasi.
Salam,
Nanang Suryadi Redaksi Fordisastra.com |
|
Tiga Puisi Nanang Suryadi
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:14:41 WIT (103 reads)
Ada Orang Mati, Malna
orang orang menyimpan asap. di jalan raya indonesia. malna, dimana bahasa. dimana kuasa. dimana identitas. ada yang mati malna. ada. bahasa
ada yang mati malna. orang-orang berbaju hitam. bahasa telah disalahpahami. juga cinta. seperti anjing menggonggong. malam itu. jam patah.
ada orang mati, malna. ada orang mati. jam sudah berangkat. ada pringadi yang rindu kamu. menulis dari tubuh. modernitas yang mati, malna.
Malang, 2011
Read More... | 4229 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Tiga Puisi Ganjar Sudibyo
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:13:03 WIT (82 reads)
JAUH HARI DARI INFUS DARI IL POSTINO
sebab aku takkan ingat jauh jauh hari nadi yang kini air, sempurna berlubang dari satu sisi ke sisi panjang lain; kabar yang turun dari kantong infus itu dibawakan oleh para perawat bergantian--begini katanya, maka tibalah cinta dan sepi mengirim pahit yang sebentar sembuh di kepalamu di kaki kaki dan tangan beludakmu. seketika waktu telah sampai jauh hari
2011
Read More... | 1437 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Puisi dan Bayang Kenangan
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:10:24 WIT (127 reads)
Esai: Dimas Arika Mihardja
(Sepenggal Pengantar Buku Ramayani)
Rekaman kenangan ke dalam karya “puisi” idealnya memiliki tiga ciri utama, yakni keindahan, pemadatan, dan ketidaklangsungan ekspresi. Puisi tergolong karya seni yang fungsi estetiknya dominan. Aspek estetik itu bermacam-macam, di antaranya gaya bunyi, gaya kata, gaya kalimat, dan wacana. Puisi yang baik juga mengandung ciri adanya pemadatan yang mengedepankan inti gagasan, pemikiran, ataupun peristiwa. Ciri pemadatan puisi tampak dari pilihan kata, frase, kalimat yang setepat-tepatnya supaya puisi menjadi karya yang padat-padu. Untuk pemadatan ini kadang-kadang penyair hanya menggunakan kata-kata inti atau dasar dengan meniadakan imbuhan, awalan dan akhiran. Selain itu, puisi pada hakikatnya merupakan ekspresi yang tidak langsung. Ketidaklangsungan ekspresi ini, menurut Riffaterre, disebabkan oleh penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorsing of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning). Penggantian arti tercipta berkat penggunaan bahasa kiasan seperti metafora, simile, dan metonimi. Penyimpangan arti tercipta oleh penggunaan ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti disebabkan oleh pola persajakan, enjambemen, tipografi, dan homologue (persejajaran baris).
Read More... | 9340 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Sekilas Karya dan Kekaryaan
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:08:40 WIT (86 reads)
Esai: DIMAS ARIKA MIHARDJA
(Catatan Pengantar Buku "Senja di Batas Kata")
Hakikat buku adalah wacana. Hakikat manusia bertegur sapa. Untuk melengkapi tegur sapa dan wacana, kami seleksi sejumlah catatan terkait dengan karya dan kekaryaan Dimas Arika Mihardja (DAM). Disadari bahwa karya dan kekaryaan DAM belumlah memiliki makna apa-apa. Ketika usianya berada di ambang sore dan mengarah ke rembang senja, ternyata belum ada yang pantas dicatat dan diberi tempat. Karya dan prestasinya biasa-biasa saja. Karya-karyanya memang selalu mengalir. Kekaryaannya memang selalu hadir. Namun, untuk apa sebenarnya catatan pengantar ini dibuat?
Read More... | 27376 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Perginya Si Pengembara (Esai: Iskandar Norman)
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:06:28 WIT (77 reads)
Oleh: Iskandar NormanYang berangkat siang itu Adalah Adam dari kayangan Selebihnya hawa Sesuatu yang bernama di punggung bukit. (Butong, Jum’at 22 Juli 1999) Sajak Pembantaian milik AA Manggeng mengigatkan saya kembali kepada tragedi pembantaian Tgk Bantaqiah di Beutong Ateuh tahun 1999 lalu. Kini A A sendiri yang harus berangkat Sabtu dini hari (27/3) di ranjang Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Pagi kemarin, rekan Sulaiman Tripa mengabari berita duka itu.
Read More... | 6034 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
CORETAN KECIL PSIKOLOGI SASTRA (Esai: Ganjar Sudibyo)
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:04:39 WIT (81 reads)
CORETAN KECIL PSIKOLOGI SASTRA: MENELAAH SISI AKTUALISASI DIRI DI BALIK EKSPLORASI KATA DAN MAKNA DALAM BUKU PUISI “Selamat Datang Hujan” KARYA PENYAIR ULLYL CH** DENGAN APLIKASI TEORI NEEDS MASLOW
Oleh: Ganz Pecandukata (A. Ganjar Sudibyo)*
Sepintas ketika saya membaca puisi-puisi yang ada di halaman-halaman buku berjudul “Selamat Datang Hujan”, saya berpikir bahwa Ullyl Ch termasuk orang yang berani menerbitkan buku kumpulan puisi. Saya membaca banyak puisi yang secara tekstual belum begitu “dingin” untuk menjadi “gigil” di balik hujan. Entahlah, apa karena saya terlalu banyak membaca karya-karya penyair yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam dunia puisi, sehingga terkadang saya berpikir bahwa saya tidak perlu berpanjang lebar untuk membaca apalagi mengulas puisi-puisi dalam buku ini. Namun di sisi lain, saya merasa bahwa penyair yang masih saya anggap sederhana dan muda dalam berkarya seperti Ullyl Ch ini, perlu mendapat apresiasi yang lebih. Perilaku apresiatif lebih inilah yang dapat menjadi stimulus di benak si penyair untuk menilik puisinya lebih dalam dan konstruktif pada proses kreatif selanjutnya. Lalu, apresiasi seperti apakah? Ya, salah satunya adalah dengan mengangkat proses kreatif si penyair untuk dibawakan pada bentuk-bentuk ulasan seperti ini. Tentunya dalam ruang ini: ruang apresiasi, saya akan mengupas dari sisi psikologi sastra yang kali ini bertema psikologi kreativitas dalam menciptakan karya sastra berupa puisi. Pun, saya berharap bahwa saya dan pembaca di ruang ini mendapat sesuatu yang berharga untuk diambil sebagai bagian dari proses pembelajaran manusia yang sejatinya tak pernah berhenti belajar....
Read More... | 12535 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Panggung (Cerpen: Janoary)
Posted by admin on Friday, March 22 @ 11:01:22 WIT (64 reads)
Oleh: Janoary
Aku bertanya padamu. Aku ingin tahu darimu. Menurutmu, untuk apa kau melakukan semua ini? Untuk apa kita melakukan semua ini? Akan kukatakan padamu apa yang baru saja datang padaku. Kita melakukan semua ini karena dunia ini menyedihkan, penuh penderitaan. Kita melakukan semua ini karena kita tahu. Dan, semua orang pun tahu, entah sampai menyakini yang mereka ketahui atau sekadar hanya mengetahui. Tapi, bagaimanapun juga, dunia ini menyedihkan. Itu menurutku, mengapa kita melakukan semua ini.
Ada beberapa hal, walau mungkin terkesan sangat dangkal dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yang membuat manusia itu sejenak keluar dari dunia yang menyedihkan ini. Salah satunya adalah kekaguman. Ya, kekaguman pada mimpi. Tidakkah kau lihat tatapan mereka tadi, sesaat setelah kau mengeluarkan kelinci dari topi? Itu tipuan lama tapi tetap mereka suka.
Read More... | 10173 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Izukalizu (Cerpen: Bayu)
Posted by admin on Friday, March 22 @ 10:59:02 WIT (94 reads)
Oleh; Bayu
Apa saja yang aku kabarkan padamu, lewat puisi, lewati cahaya kunang-kunang, maka itu mungkin adalah sebuah frasa yg hanyalah frasa. Atau bisa jadi kau yang memberinya makna. Hanya saja, aku berpikir, tak ada yang perlu memaknai tiaptiap huruf, kata, ataupun sepenggal resah. Meski kadang aku ingin.
Tapi tiap imaji yang tercipta, menyeruak tibatiba, hanyalah sesaat yang mungkin saja abadi, namun kelak tetap saja akan retak. Seperti ketika aku bermain begitu riang dengan menghamburkan katakata pada berlembarlembar kertas, menghabiskan waktu yang semakin tak terasa melewatiku begitu saja. Atau seperti ketika aku terpaksa terpekur, merenungi makna dari tiap kata yang hampir saja tercipta namun tak pernah ada kecuali sekedar bermain saja dalam labirin yang sengaja kuciptakan.
Read More... | 3485 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
Call Divert (Cerpen: Fitrah Anugrah)
Posted by admin on Friday, March 22 @ 10:56:58 WIT (86 reads)
Oleh; Fitrah Anugrah
Sayup-sayup lagu Mahadewi terdengar dari MP3 player di HP milik Rido. Dia pun terhanyut dalam lirik-lirik yang dibawakan Padi, "Hamparan langit maha sempurna.Bertahta bintang-bintang angkasa.Namun satu bintang yang bersinar teruntai turun menyapaku....".
Malam itu Rido sambil tiduran di ranjang kamarnya membayangkan wajah kekasihnya yang jauh di kota seberang. Malam itu Rido sedang menunggu SMS dari kekasihnya, Ajeng. Kekasih yang baru dikenalnya beberapa bulan dari sebuah situs pertemanan di internet. Malam itu Rido sangat merindukan kehadirannya lalu memberinya kata-kata cintanya. Rido mengingat kata-kata cinta dari kekasihnya yang selau fresh dan membuat dia terhanyut untuk memberi balasan lebih lanjut."Oh Mahadewi sudilah turun ke bumiku..."harapnya. "
Read More... | 23046 bytes more | comments? | Score: 0
|
|
| |
 |
Login |
 |
|
Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name.
|
|
|
 |
 |
Big Story of Today |
 |
|
|
There isn't a Biggest Story for Today, yet.
|
|
|
 |
|