Selamat datang di fordisastra.com
Selamat datang di fordisastra.com, portal sastra Indonesia yang berdiri sejak tahun 2005. Situs ini merupakan wadah bagi para penulis sastra Indonesia untuk menampilkan karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai, cerita bersambung, novel juga berita-berita tentang sastra Indonesia maupun dunia.
Kami menunggu partisipasi anda.
DUA SAJAK AMAL BAYU RAMDHANA
Dikirim oleh redaksi-4 pada Saturday, 25 June 2011 (982 kali dibaca)
LELAKI KUPU-KUPU
/1/
Dia memang selalu nomor satu kalau sudah menyuratkan duka:
lelaki kupu-kupu tanpa peluh, tanpa bercak darah di pelepah jubahnya.
Apakah itu sebab asmara, penantian yang terkulai, maupun rindu si tukang jagal;
lelaki kupu-kupu tanpa peluh tanpa bercak darah tanpa ikat kepala itu selalu siap
menangkap, “Kalau kau tidak bisa berharap, biar aku yang menjadikannya genap.”
Dan ketika mengantarkan duka, selalu saja hatinya tidak pernah bercabang:
lelaki kupu-kupu bernasib belang yang sebenarnya sangat ingin pulang kepada ilalang.
Karena hantu sekelit waktu, rasa asin masa lalu, ataupun jadwal-jadwal yang dipaku;
lelaki kupu-kupu itu hanya tahu melaju. Tanpa lampu, tanpa nama jalan.
“Tidak akan kusengaja sebuah nama jalan yang justru menjadikanku ketakutan.”
: Dulu dia sebiji kepompong yang terjuntai (antara khawatir dan percaya) di siang bolong.
Tidak suka meributkan apakah lahir atau tergelincir di suatu pagi yang hampir.
Tidak mengenal sapa matahari atau suara manja anak-anak bunga.
Dulu dia hanya seselip benda dalam selongsong antara mirip dan niscaya; antara bohong
dan gosongnya suatu peristiwa. Di depan biji matanya.
/2/
Jika hari ini dilewatinya sebuah roman, telah diingkarinya judul atau nama pengeran.
Dia juga tidak tergesa-gesa hanya karena merasa telah terpental dari sebuah interval
yang mereka kenal; berkhayal tentang kekal. Dia tahu ajal, tahu gelepar. Dan mengental.
Dia lelaki kupu-kupu di luar jendela yang tidak pernah singgah karena godaan selembar
kalender meja bergambar wanita berbusana nyala. “Aku lebih pandai dari permulaan.”
Dan kepadanya ada yang lebih diperkenankan, tetapi selalu saja bukan yang taman:
lelaki kupu-kupu berwarna perawan yang sebenarnya letih mengharamkan semua bagian.
Karena terjebak sebuah babak, ihwal yang pelan menguak, ataupun amisnya akhir sajak;
lelaki kupu-kupu itu tetap harus terus berkelebat. Tampak bisu, tampak hampir sekarat.
“Selembar kabar jauh ini kubawa utuh untuk kedua matamu, dan aku mendekapnya erat.”
: Dari yang dulu dia sungguh sangat mau menjadi lagu. Lalu masuk di buku beludru.
Tidak perlu ada yang susah menyanyikannya. Tidak usah ada lidah yang patah ketika
menghapalnya. Tidak ada datang dan pergi tetapi membenci ketika kembali.
Dari yang dulu dia hanya ingin mengintip dan berkedip di antara yang lindap dan yang sirap;
di antara lolong dan kosong sisa suaranya. Di dalam kutuk nisbi biji dadunya.
(Aku hanya mampu menatap ketika sepasang sayapnya menancap di atap.)
Bekasi, April-Mei, 2009
Amal Bayu Ramdhana
Panggung
Dikirim oleh redaksi-4 pada Wednesday, 22 June 2011 (738 kali dibaca)
janoary menulis "
Aku bertanya padamu. Aku ingin tahu darimu. Menurutmu, untuk apa
kau melakukan semua ini? Untuk apa kita melakukan semua ini? Akan kukatakan
padamu apa yang baru saja datang padaku. Kita melakukan semua ini karena dunia
ini menyedihkan, penuh penderitaan. Kita melakukan semua ini karena kita tahu.
Dan, semua orang pun tahu, entah sampai menyakini yang mereka ketahui atau
sekadar hanya mengetahui. Tapi, bagaimanapun juga, dunia ini menyedihkan. Itu
menurutku, mengapa kita melakukan semua ini.
Ada beberapa hal, walau mungkin terkesan sangat dangkal dan
terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yang membuat manusia itu sejenak
keluar dari dunia yang menyedihkan ini. Salah satunya adalah kekaguman. Ya,
kekaguman pada mimpi. Tidakkah kau lihat tatapan mereka tadi, sesaat setelah
kau mengeluarkan kelinci dari topi? Itu tipuan lama tapi tetap mereka suka.
"
DUA SAJAK RANGGA UMARA
Dikirim oleh redaksi-4 pada Thursday, 16 June 2011 (1013 kali dibaca)
Pulanglah... Aku Tak Ingin Kau Terluka
Pulanglah
Tempat ini terlalu kejam untuk kau singgahi
kamar ini terlalu suram untuk kau rebahi
Pulanglah
Biar kurawat luka ini sendiri
Aku tak ingin kau terluka
percayalah
Aku takkan lelah membawa wajahmu
Pada ujung kematian sekali pun
Biarkan aku pergi
Dengan tajam tangismu yang menusuk jantungku hingga luka
Kutuklah aku biar mati lebih cepat dari tawa yang akan kau lahirkan
Aku ingin melihat kau menangis untukku sekali lagi, di saat kau taburkan
bunga-bunga di batang nisanku
Setelah itu, tak kan lagi ada tawa yang kau sangsikan.
Kekasihku,
Mengapa kau tak datang lebih cepat
Dari tangis yang kau pendam diam-diam di sudut matamu?
Demi cinta, terlalu banyak airmata akan tercipta
Aku hanya ingin kau tertawa
Aku tak ingin kau terluka
Pulanglah
30 Nov 2010
EMPAT SAJAK NANOQ DA KANSAS
Dikirim oleh redaksi-4 pada Saturday, 04 June 2011 (795 kali dibaca)
berjalan-jalan di ibukota kabupaten
di bawah monumen adipura kencana
ada yang memotret kita
dan dengan gembira menertawai mata dusunku
berapa harga keindahan ini? – aku terkesima
segera engkau kisahkan perumahan kumuh
got-got berbau masam dan trotoar kusam
yang pernah menjadi denyut cinta
masa lalu kita. Juga gardu-gardu tua
kampus pengamen dan penyair malam
tempat menuang lagu sumbang
dan sajak-sajak sakit jiwanya
kejujuran yang kini dibayar
dengan miniatur taman-taman berlampu merkuri
ah, betapa singkatnya waktu berdandan
di depan wajah gemerlap swalayan itu
seharusnya aku tak terperanjat
: kehilangan seorang penjual dawet
tidaklah lebih penting dari perkenalan
dengan jalan 4-6 jalur atau eksotis jajaran kafe
tapi aku haus!
- ah, betapa romantisnya engkau! – pekikmu
sambil memeluk dan melumatku dalam ciuman
yang memerihkan seluruh pori-pori
Sadang
Dikirim oleh redaksi-4 pada Friday, 03 June 2011 (823 kali dibaca)
Oleh A. Musyafak
MUSTINYA pagi ini Tabil dan rombongannya berangkat berburu. Masih banyak hutan yang belum mereka taklukkan. Tapi kabar duka lebih dulu berangkat menuju telinga mereka. Istri Lurah Sasmita meninggal setelah didera sakit aneh beberapa bulan belakangan.
Jadilah Tabil dan rombongannya melayat. Mencurahkan perasaan berkabung kepada Lurah Sasmita. Mereka saling diam. Seorang dan yang lainnya tampak tidak berselera untuk bercakap-cakap. Kecuali menyelami pikirannya masing-masing, serta membiarkan dirinya dicekam rasa waswas. Bahkan ketegangan di raut Tabil tak berkurang sejak mendengar kabar kematian pagi tadi.
***
Dalam Rindu
Dikirim oleh redaksi-4 pada Thursday, 26 May 2011 (890 kali dibaca)
abimardha menulis "dia memang tak melihatmu sekarang
dalam rindu, tetap ia seekor kijang berlompatan
dari ceruk telaga, menuju kepundan kawah menganga
dia memang tak mendengarmu sekarang
dalam rindu, tetap ia menjadi seekor kucing jelata
melata, meredam suara kertap kaki di lantai dingin
demi sekerat masin serat daging ikan asin
dia memang tak bicara apapun sekarang
dalam rindu, tetap ia seekor murai batu di sangkar tembaga
walau nyaring kicau yang terdengar seperti nyanyi
sungguh, itu hanya pedih berlarat meracuni bunyi...
27 maret 2011
"
TIGA SAJAK TERJEMAHAN*
Dikirim oleh redaksi-4 pada Saturday, 07 May 2011 (1037 kali dibaca)
KOMPOSER
Akankah kau tahu untuk sekedar mendengar
beberapa musik yang tak pernah
aku tulis?
Dengarlah!
Kau memandang seolah-olah itu
adalah sebuah hal mudah untuk
tidak menulis musik.
Musim semi, 1964
Carter England
Seorang penyair Inggris di abad 20.
SAJAK LINA KELANA
Dikirim oleh redaksi-4 pada Friday, 06 May 2011 (1084 kali dibaca)
TUJUH TIRAI MENGAPA RINDU TAK MENEMU TITIK
1/KITA, MELEMPARKAN TATAP MENJAUH DARI RATAP
Tatkala fajar lahir, kita menanak angan pada tungku harapan
Senyum mengepul
mencipta hunian
Di atasnya rumah cinta, kita
Merahim masa depan
Namun, ketika tungku mulai panas
kita menjatuhkan bara
Pelanpelan melunturkan keringat
Yang kita cecap semalam tadi
Kusadari,
kita makin menenggelamkan pikir
Mengabaikan hening yang lamatlamat jenuh
Bualan kita terlalu lengur, hingga kayu
hanya setengah saja terbakar
kita harus menghindar, karena kau dibesarkan malam,
sedang aku menimang siang
sementara siang dan malam tak akan
bersatu dalam satu ramuan
Sajak Untuk Tuan Pembantu
Dikirim oleh redaksi-4 pada Friday, 06 May 2011 (1053 kali dibaca)
herdoni menulis "Bulan masuk terciprat ke dalam kopi
air menggenang di kelopak runcing matahari
tuan ceritakan sebuah kisah tentang negeri
yang katanya punai berlimpah materi
kita lupakan malam jemput siangku
kita bagi gula putih untuk tanah air
kita tipu anak-anak sendiri
biar kita terlihat peduli
bila malam kita iris bulan
untuk anak cucu darahku
agar kaum kita tertawa
kita habiskan uang Negara
tak peduli kata orang lain,
jawabannya: selagi bisa !!
"
Khatulistiwa Literary Award 2011
Dikirim oleh redaksi-4 pada Monday, 18 April 2011 (1160 kali dibaca)
Tahun ini Khatulistiwa Literary Award kembali diselenggarakan. Hadir dengan dua kategori, yaitu Fiksi dan Puisi, KLA 2011 akan menganugerahkan penghargaan untuk karya-karya terbaik yang terbit antara periode Juli 2010-Juni 2011. Masing-masing pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar Rp50.000.000.
Di bawah ini adalah syarat-syarat karya yang berhak masuk ke proses penjurian: