Menu Fordisastra
· Home
· Account Anda
· Arsip Naskah
· AvantGo
· Beritahu Teman
· Content
· Downloads
· Ensiklopedi
· Kirim Naskah
· Saran Anda
· Topics
· Yang Terbanyak

Sedang Membaca Fordisastra
There are currently, 9 guest(s) and 0 member(s) that are online.

You are Anonymous user. You can register for free by clicking here

Cari!



SELAMAT DATANG DI JAGAD SASTRA CYBER

Selamat datang kawan.

Fordisastra.com online di dunia maya. 22 November 2005 didirikan situs fordisastra.com, yang bercita-cita menjadi ajang kreasi para penggiat sastra di seluruh nusantara. Ayo kita teruskan perjuangan!

Redaksi Fordisastra.com

ANTOLOGI FORDISASTRA 2010

Untuk menggairahkan dan mendokumentasikan karya sastra, maka fordisastra.com mengundang rekan-rekan penyair senusantara untuk bergabung dalam 'ANTOLOGI PUISI FORDISASTRA 2010" dengan ketentuan:

1. Setiap penyair mengirimkan 20 puisi terbaiknya
2. Tahun penciptaan 2009 - 2010
3. Disertai biodata lengkap dan foto
4. Dikirim dalam format rtf atau doc ms word ke fordisastra@gmail.com
5. Antologi puisi ini akan berupa e-book (pdf file)
6. Batas pengiriman awal September 2010
7. Redaksi berhak memilih puisi yang akan dimasukkan ke dalam antologi
8. Antologi puisi ini akan dapat diakses (diunduh) pada bulan November 2010

Redaksi Fordisastra.com


Puisi
Reads: 58

mulutmu mencubit dagingku


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:56:16 EDT
fajarnobu writes "mulutmu mencubit dagingku



aku simpan sisa daging tubuhmu

kulit harum basah lembut

dalam adonan laut yang begitu manis

begitu murni menghamburkan hijau garam

dalam kesakitan yang panjang

lukaluka atas jarum waktu senantiasa menjatuhkan dirinya

bagai hitam biji semangka dalam merah dagingnya

lalu menggelepar seperti ikan di wajan penggorengan

lukaluka atas kuncup bunga plumeria

akan senantiasa menemukan keharumannya

berguguran di atas batu tempat segala rinduku padamu

bergemerincing seperti kalung anjing di pagi buta

dengan tali yang melilit lehernya



 
puisi bebek mandi di kali



hati yang menawan!


pada lekukanmu aku dengar ribut segerombolan bebekbebek

berebut cacing atau kepiting lebih nyaring dari salak anjing

yang kemarin mati karena menelan mikrofon

pada lukanmu seekor hijau kodok berlompatan di atas  kelopak

mata bunga dan disela tifa angusfolia kesedihanmu begitu merana


ada yang tak lagi hijau melingkar dari balik batu dari arus air mengalir

kerinduan yang lain. kerinduan sebatang pohon yang akarnya menjerat

tubuh yang lain bukan pinggulmu atau kesedihanmu yang membuat bebek

jantan tibatiba bertelur warna biru


di atas kelopak mata yang lain yang menatapku dari bawah air


 

daging kaleng



tibatiba kulihat dagingmu meringkuk ditanggalan

tapi tidak berdarah seperti kemarin seperti wajah para demonstran


dagingmu oh daging merah muda atau merah jambu

tulang iga yang menawan penuh kemudaan

menggerayang memabokkan pada kesedihan

seperti payudara yang besar akibat silikon

atau wajah berminyak dari sebuah salon

tapi tidak untuk rambutmu yang hitam kaubiarkan

memanjang menyentuh kerawananku

atas sangsiku pada kerinduan yang menumpuk

di dalam koper seng bersama daging ikan segar

dari hijau sungai yang berebut saos sambal


dagingmu oh daging biru laut atau hijau daratan

tulang rusuk yang memikatku dengan kesepian luka

yang dengan kelembutan minta diluruskan karena patah

tak berjarak dengan musibah

seperti anak merpati yang jatuh dari sarang

lalu seekor kucing bermata kuning menyantapnya

dengan sedikit garam serta lada hitam

yang dicurinya lewat pintu dapur yang terbuka


dagingmu oh serupa daging babi atau kelinci

di dalam almari es yang coba kuledakkan dengan batang korek api

di musim hujan kali ini


 
 
kucing betina



sebutir

bola karet

membelah udara

melesat

bawah

rok

minimu

bergambar

kuning

bunga

sepatu

“ Srettt!!!”



 

puisi untuk Betty



karena bunga bukanlah segalanya

akar yang menjalari serat dagingmu

membuat tunas baru pada ranting dahan

untuk segala udara yang menyesaki jantungmu

untuk sepatu bot yang kaupakai selepas hujan pagi tadi


daundaun yang berwarna hijau menua

menjelma kantung mata tapi bukan untuk hidungmu

atau ciuman panjangku untukmu ketika lelap tertidur

ketika kuncup bunga bermekaran

lalu terpelanting di kursi taman bersama usia


meninggalkan benih tepat di ulu hatimu!









































"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 40

Mata


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:55:16 EDT
abimardha writes "

dari geladak sajak
belum aku menemu kamu
dari becek jalan depan rumah
ternyata kau terlanjur tua



Surabaya, 7 Juni 2010
"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 43

Hidung


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:54:58 EDT
abimardha writes "

betapa tak lengkung kamu oleh sumur yang kembar sepasang
tapi oleh wangi yang dulu pernah kudulang dan kubuang



Surabaya, 7 Juni 2010, 22:46

"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 46

pulang


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:54:43 EDT
dusone writes "
hujan jadi datang
semalam
tanah basah
mata merah
perempuan mengubah arah
pagi ini kuterima telegram
bau asin garam
ceritakan malam
“ibu, aku ingin pulang”
"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 59

SAJAK-SAJAK IHSAN SUBHAN


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:54:26 EDT
ihsanfordi writes "BARANGKALI PERLU TANAH

Barangkali kau perlu tanah
untuk kematianmu yang entah
barangkali kau ngumpet dalam degup
jatungmu yang kencang
lalu kau sisakan detakan terakhir
untuk mengenang Tuhan


Kau mengingat sejuta layang-layang
sasar di tenggorokan
melintas di otak-otak,
mata, telinga, dan mulut
yang selalu mereguk kehidupan

Kau perlu tanah untuk berdzikir
dan bagaimana mengembalikan tetubuh
yang usang dengan kekelaman
yang sengaja kau ukir

Rembulan hadir berjuta lebih purnamanya
setiap musim tengah gosong
setiap waktu ketika kau berangkat bekerja,
bersekolah, bermain, dan pulang ke rumah.
Apa kau perlu tanah saat kau bekerja,
bersekolah, bermain dan pulang ke rumah.

Kau perlu tanah di matamu yang gelisah
dan mengerami air mata
agar kelopak matamu basah

Barangkali kau belum punya tanah
yang lahir kecoklatan,
kemerahan, kehitaman
maka puisiku barangkali hanya
kutipan penasaran
ngintip lebih peka
pada lalu lalang kehidupan

Barangkali kuinginkan tanah
Untuk membuat pohonan
berbuah strawberry
Dan berbungakan melati
Bukan serabut tanah untuk kulupakan

Ihsan Subhan 
Cianjur, 17 Juni 2010


JENDELA
Untuk jendela hati

daun jendela tutup buku
setelah lama seharian bergumam
ini dan itu
langit memayungi malam lewat rembulan
kadang cahaya seperak serupa uang logam

ini waktu melompat padat
dan musim bergilir menggantikan subuh
sampai senja
ini mimpi, pecah
tak mau tahu ke mana arah
dan kau putuskan untuk berdoa
mengenyam bibir
sampai ke sudut lelap kota

jendela itu masih mengunci
seperti kau benamkan kapal
dan karam
lalu pelabuhanku
membuka sejumput cercah
celah yang kuharap kau dapat mengisinya
dengan bebutir bintang

jendela akan terbuka di awal hari lagi
aku kembali berpuisi,
mengenai jendela yang akan tutup
pada waktu maghrib tiba

2010

SAJAK KESUNYIAN III

kesunyian datang kembali
pada saat aku dan jalanan
yang berkerlip di atap kepalaku
memeluk mata
menyorot lembut
sempit lekuk-lekuk tubuh

kesunyian ini menjelang lagi
karam di permukaan hati
sesekali kutinggalkan kau sunyi
dan menyimpan kata-kata simpati

kesunyian ini lembab di malam hari
ketika aku kembali pulang
dalam bentuk serpihan mimpi

kesunyian ini sentuh tembus pori-pori
serap dahaga atas rindu yang menganga
kesunyian ini silih menari
bergoyang dangdut
dan sorot lampu kuning jalan raya
- semakin hati-hati

kesunyian ini terus melabuh
ketika roda-roda berputaran
mengisi aspal-aspal
jiwaku masih mendiami jalanan lengang
yang sunyi.
entah di mana terkasih hati

kesunyian ini bisa terobati
aku di sini dan kau ada di samping mataku
lalu kau lirik aku
mengkaburkan kesunyian yang panjang
seperti jalanan yang kutempuh
dari Cianjur ke Padalarang

2010

"




(Read More... Puisi | 3212 bytes more | Score: 4)
Puisi
Reads: 44

celoteh si gila


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:54:01 EDT
dusone writes "
jamur telah lama mengotori dinding, membuat gambar serupa lukisan kisah manusia. orangorang yang terlahir tanpa sengaja, terusir dari tempat yang seharusnya. masih saja pembicaraan di koran dan televisi, didominasi persoalan kasta dan etika. apakah kita datang dengan berkat di tangan? entah, terima saja nasib buruk yang segera akan datang.

tuhan, tuhan, kenapa kau tinggalkan aku? selalu aku bertanya kepada orangorang suci, apakah ada tempat di surga buatku kelak, saat telah kukorbankan kemaluanku untuk melahirkan anakanak, yang setelah dewasa nanti mereka akan saling menikam mati. barata yuda. tak ada perdamaian abadi, sebagaimana pula tak ada teman yang abadi. hanya derita kekal selamanya.

jangan percaya padaku. aku hanya orang gila yang meneropong dunia. jika mencari aku, tanyakan pada hatimu, adakah diriku di situ. ah, mulai ngawur bicaraku. lantas kenapa kau masih saja menyimak ucapanku? pergilah, dan abaikan aku. o dunia yang malang. maaf aku telah meninggalkanmu sekarat sendirian.

perjalanan yang harus di tempuh, dalam berbagai ukuran, panjang atau singkat. bagaimana dengan akhirnya kelak? apakah mesti juga kita yang pikirkan? o hidup o jiwa o pencipta. tugasku hanya menjalani. apapun nanti yang akan terjadi, terjadilah. sudah.
"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 49

Terminal Kampung Melayu Malam Ini


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:53:28 EDT
fitrahanugrah writes "erminal Kampung Melayu Malam ini

begitu cepat bulan menangkap genangan comberan
seakan gerak sopir tertahan di lenggang terminal
tinggal bayang remang berendam dalam hamparan
dikata kilau tetapi musafir telah menjejak kaki
tanpa malu-malu membisukan tanda pada rangkaian nama jalan
lalu dengan cara indah bulan melepas nestapa yang mengangkang
di sela rongsokan peristiwa yang terparkir mati

Bekasi, 19-06-2010"




(Read More... Puisi | Score: 5)
Puisi
Reads: 42

Musiman Negeri


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:53:12 EDT
pendekarsastra writes "oleh: Saifun Arif Kojeh

Kala musiman negeri kami
Padinya melejang-lejang
bulir-bulirnya berguguran
Terserang hama
dari iklim tak menentu

Tanjung Hulu (Pontianak), 19 Juni 2010"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Puisi
Reads: 47

Tak Tega


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:52:24 EDT
pendekarsastra writes "Oleh: Saifun Arif Kojeh

Hawa kopi coklat warung simpang dua
Membaui hidung rasa
Menghangati selera untuk mereguknya
Tapi tangan seketika berhenti
Meraih cangkir minuman itu
Saat mata hati memandang
di kedalaman minuman itu
ada wajah-wajah kehausan sangat

Jiwa pun tak tega
Menghapus wajah mereka
dari pandangan mata hati ini
Hanya demi memenuhi kepuasan
Rasa nikmat

Balai Berkuak, 16 Mei 2010"




(Read More... Puisi | Score: 0)
Esai Sastra
Reads: 67

Buku Puisi "Ornamen Kesunyian"


Posted by redaksi on Monday, July 12 @ 01:52:01 EDT
aryy writes "Ornamen Kesunyian
Oleh: Yoyong Amilin

ISBN : 9786028543576
Rilis : 2010
Halaman : 84p
Penerbit: Bisnis2030
Bahasa : Indonesia
Rp.30.250

Pemesanan langsung di:

http://www.bookoopedia.com/daftar-buku/pid-32160/ornamen-kesunyian.html


ATAU DI. 0819-0860-6946


BERIKUT KOMENTAR TENTANG BUKU YOYONG AMILIN:


Keistimewaan Yoyong Amilin adalah kelancarannya berkisah dalam puisi-puisinya yang memang cenderung naratif. Diksi dan retorika yang Yoyong pilih juga tidak akan menyulitkan pembaca awam atau mereka yang baru saja memutuskan untuk menyukai sastra. Karena kecenderungannya untuk berkisah maka puisi-puisi Yoyong juga bisa disebut sebagai benang merah antara puisi dan prosa. Hebatnya lagi, Yoyong bisa membuat puisi-puisi bertema religius menjadi enak (baca:tidak berat) dibaca, sama enaknya seperti saat membaca puisi-puisinya yang bertema cinta dan erotisme yang halus.

Iwan "Bung Kelinci"

Dosen & Penulis





Buku kumpulan puisi Yoyong Amilin kali ini bercerita banyak hal, mulai dari tingkah polah manusia yang amat pribadi, sampai dengan demokrasi dan negara. Bait-bait puisinya juga disampaikan dalam berbagai variasi gaya mulai dari yang pendek-pendek, berbaris sampai dengan bait yang ditulis mirip prosa, seolah tanpa membedakan antara satu bait dengan bait berikutnya. Bagi penyair yang masih semuda Ayong tentu ini akan memberikan warna penjelajahan yang kelak kemudian hari akan menjadi pondasi dalam perjalanan kepenyairannya. Pondasi yang kaya akan berbagai makna kehidupan seperti yang tercermin dalam gaya penulisan maupun cara bertutur yang terkadang menertawakan diri sendiri maupun orang lain, seperti pada satu puisinya : demokrasi, puisi ini menggelitik dan penuh misteri apalagi bait hanya berisi satu kata : h...a...n...y...a.... Sip sip selamat berkreasi, selalu. amin.

Atik Bintoro

Penyair & Peneliti LAPAN



Sebagai seorang dosen, saya terkesima membaca hasil karya ini, yang ditulis seorang muda bernama yoyong. Ia mengalirkan rasa hati dan jiwanya, melalui renungan dan pemikirannya yang dalam, tentang kehidupan di sekitar dirinya.

Saya terkesima, di hiruk-pikuknya kehidupan yang pragmatis saat ini, terutama di lingkungan muda, ternyata masih ada yang berselimut idealisme. Ia mengemukakan keresahan, kecintaan, dan kerinduan jiwanya yang dalam, tentang makna sebuah ke indahan.

Ia mengungkapkan semua itu, melalui hasil karyanya yang nyata di hadapan para pembaca yang budiman. Semoga…..



Ibrahim M. Diah

Dosen"




(Read More... Esai Sastra | 2765 bytes more | Score: 0)
Download Terbanyak
There isn't content right now for this block.

Tajuk Serta Merta

Sayembara
[ Sayembara ]

·Ingin Mengikuti Lomba Poster dan Puisi di Ajang South to South Film Festival 200
·Kedai Kopi
·Informasi Lomba Penulisan
·Pertanggungjawaban Dewan Juri Penghargaan Sastra Indonesia-Yogyakarta Tahun 200
·Pengumuman Pemenang RAH Award 2007
·Masih Ada Tersisa
·Sayembara Penulisan Karya Sastra
·waktu
·Tebing Itu Masih Ada

Kategori Artikel
There isn't content right now for this block.

Login
Nickname

Password

Don't have an account yet? You can create one. As a registered user you have some advantages like theme manager, comments configuration and post comments with your name.

Artikel Terhangat
There isn't a Biggest Story for Today, yet.

Artikel Terdahulu
Monday, July 12
· NEGERI SEKOLTUT
· dua sajak perjalanan
· mereka bilang saya gila
Wednesday, May 26
· tentang : lumpur
· yang tercecer di karimunjawa
· kemana tak ada siapa
Saturday, May 22
· LIMA SAJAK SEBELUM TIDUR
· PUISI KEPADA KEMATIAN
· Kwatrin Tasbih
Monday, May 10
· Perempuan Kecil

Older Articles

Ensiklopedia
· Sastrawan Indonesia



Hak Cipta pada Penulis, jika anda akan mengutip silakan hubungi penulisnya dan menyebutkan sumber: fordisastra.com
PHP-Nuke Copyright © 2005 by Francisco Burzi. This is free software, and you may redistribute it under the GPL. PHP-Nuke comes with absolutely no warranty, for details, see the license.
Page Generation: 0.19 Seconds