di pameungpeuk, kita berdelapan
aku menuliskan perjalanan ini
seumpama kabut. kita berdelapan
mencari cari jalan ke arah maut
yang selalu jauh dan luput.
hutan gunung sungguh angkuh
melihat wajah dada kita terus gemetar
di pameungpeuk, kita berdelapan
seolah ular melingkar lingkar mencari jalan
padahal maut hanya sebatas jam
Garut, Juni 2010
sajak penyair melepas senja
tubuh penyair ringkuh
ia berjalan jalan di malam buta
mengapa tak bergairah kini ia
dibiarkannya langit langit kosong
pohon pohon diam
angin tak berhembus
hujan mengering
mengapa tak bergairah kini ia
dibiarkannya kertas kertas beku
tangannya kaku
dibiarkannya matahari masuk ke dalam tubuhnya
bercahaya, bersinar sinar
membiarkan hidupnya porak poranda
sambil sesekali belajar menghitung berapa mautkah
yang telah sudi singgah ke rumahnya
padahal kematian tak hanya perihal pindah dunia
Bandung, 2010
aku menuliskan perjalanan ini
seumpama kabut. kita berdelapan
mencari cari jalan ke arah maut
yang selalu jauh dan luput.
hutan gunung sungguh angkuh
melihat wajah dada kita terus gemetar
di pameungpeuk, kita berdelapan
seolah ular melingkar lingkar mencari jalan
padahal maut hanya sebatas jam
Garut, Juni 2010
sajak penyair melepas senja
tubuh penyair ringkuh
ia berjalan jalan di malam buta
mengapa tak bergairah kini ia
dibiarkannya langit langit kosong
pohon pohon diam
angin tak berhembus
hujan mengering
mengapa tak bergairah kini ia
dibiarkannya kertas kertas beku
tangannya kaku
dibiarkannya matahari masuk ke dalam tubuhnya
bercahaya, bersinar sinar
membiarkan hidupnya porak poranda
sambil sesekali belajar menghitung berapa mautkah
yang telah sudi singgah ke rumahnya
padahal kematian tak hanya perihal pindah dunia
Bandung, 2010




