perempuan sarkem
perlahan perempuan pasar kembang
berteduh di sisi malam
menahan perih luka tanpa jemu
mengejar seluruh kelelahan
kesenyapan, keraguan
menunggu dekapan angin malam
yang bersemayam
di bibir pekat duka
yang menggila
perempuan sarkem
tersungging selarik senyum sinis
menyapa debu yang berkeliaran
ah…kalau saja waktu berpihak padanya
pasti sang perempuan manis bilang begini
padaku yang malam itu tak bosan mendengar celoteh pedihnya :
“ kekasihku pergi…
hanya dengan menjadi perempuan malam
kubisa melenyapkan sendu
berkawan kumbang malam
yang tak henti menggauli
tetapi…adakah cinta
seperti kata penyair Rumi, dahaga yang sempurna, air kehidupan ?
perempuan sarkem
jogja kotamu
kini tak ramah lagi